Jaman sekarang siapa sih anak muda yang gak pernah dengar salah satu situs dunia maya yaitu Facebook? Rasanya kuno banget kalo ada anak muda yang gak tahu dunia yang satu ini. Jangankan gak pernah dengar, yang dengar dan tahu kalo ada dunia yang dinamai facebook, tapi gak punya akun facebook bakal dibilangin kampungan. Hm… aku masih ingat waktu baru punya akun facebook, sampai berjam-jam di depan komputer. Tiada hari tanpa facebook, sibuk dengan banyaknya tugas kuliah pun akan nyempatin untuk facebookan. Dan karena semuanya kecanduan facebook, akibatnya perpustakaan tempat biasa untuk online pun dipenuhi oleh mahasiswa. Waktu itu masih malas bawa laptop ke kampus karena ribet dan berat. Tapi mulai saat itu pula, aku membawa laptopku sekalipun ada banyak buku berat juga yang ku bawa. Semuanya terasa ringan demi facebook. Kalo ada masalah, atau tugas yang buat stress, refreshingnya bakalan lari ke facebook. Ya sungguh dunia yang menyenangkan.
Banyak hal yang kudapat lewat dunia facebook. Bertemu dengan banyak orang, berkenalan dengan mereka, dan ada juga yang sampai akrab banget. Mendapatkan banyak informasi, termasuk beberapa pihak mengadakan lomba melalui facebook. Facebook betul-betul merajalela, dan membuat orang jadi kecanduan. Mulanya hanya bermaksud untuk refreshing sekedar stengah jam, tapi karena terlalu asik akibatnya facebookan sampai berjam-jam. Lupa makan, karena terlalu asik chatingan akhirnya kena maagh. Tidak tidur karena terlalu sayang untuk meninggalkan layar facebook sejenak. Aku menjadi konsumen setia facebook. Facebook memang dunia maya, tapi mampu mempengaruhi dunia nyata konsumennya. Dan itulah yang aku alami. Aku bahkan tidak tahu harus mengatakan apa, ingin mencaci maki atau menenangkan hati saja? Aku sangat sedih dengan kejadian yang menimpaku
**
Berdiam diri di kamarku, menatapi langit yang begitu gelap dari balik jendelaku. Kisahnya memang sebulan yang lalu, tapi tak bisa terhapus begitu cepat dari benakku. Aku sudah mencoba, tiap hari, tiap kali, tiap saat, tapi tak banyak yang berubah. Aku ingin menangis sekencang-kencangnya, sampai rumah kos ini gempar dan penghuni tiap kamar mengetuk pintuku dan memelukku. Tapi percuma saja, tiap malam aku seperti ini, menangis pelan-pelan, menutupi kesedihanku. Air mataku sudah kering rasanya, tapi ternyata belum mampu menyembuhkan rasa sakitku. Pedih, sakit, bercampur segala kekesalan, ingin menjambak orang yang sudah buat aku seperti ini.
“Syain” nama yang begitu dekat denganku dan membuat hidupku banyak berubah. Cinta pertama yang sempat hilang dan kucari infonya kemana-mana. Sempat aku melupakan dia, karena kesibukan kampus yang tak karuan. Aku harus menahan perasaanku, sekalipun ada banyak orang yang membuatku bisa saja melupakannya. Ketika akan menjalin hubungan yang lebih dekat dengan yang lain, bayangannya selalu muncul, dan akhirnya aku tetap pada perasaanku yang memang gak bisa hilang dari dulu. Jujur saja tak ada kata cinta diantara kami. Dan mungkin cinta ini hanya bertepuk sebelah tangan. Tapi entah mengapa hatiku mengatakan dialah cinta sejatiku. Yang pertama dan terakhir.
Dua bulan yang lalu aku pulang liburan ke daerahku. Tiba-tiba ketika aku menaiki mobil angkutan, ada seorang yang menyapaku. Aku mencari-cari dari mana asal suara tersebut. Aku tidak menyangka kalau yang menyapaku adalah orang di depanku yang tak ku kenal. Lama aku memikirkan siapa orang tersebut, tiba-tiba hatiku berdesir halus ketika aku mengingat siapa dia. Dialah Syain orang yang sudah lama aku cari. Hanya sebentar saja bertemu dengan dia, akhirnya kami pun berpisah karena dia harus turun duluan dari mobil angkutan. Dan beberapa menit kemudian aku tersadar bahwa ada yang kulupa. Lupa tukaran nomor handphone. “Aduh bodoh banget aku ini, udah di depan mata malah lupa segalanya”, gumanku kesal.
Karena hambatan jaringan dan kesibukan di rumah, aku tidak pernah membuka facebook lagi, dan pertemuanku dengan Syain terlupakan sejenak. Ketika usai masa liburan dan kembali ke kota tempat kuliahku, aku pun kembali ke rutinitas facebook dan mencari nama Syain di facebook. Aku tidak menemukannya, akhirnya aku mencari teman smanya yang kebetulan jadi temanku. Lama juga pencariannya akhirnya aku menemukan nama facebooknya. Aku mengaddnya, dan kemudian berteman dengannya dan meminta nomor handphoneku. Aku tersenyum-senyum sendiri dan segera mengirimkannya.
Esok harinya, aku menerima sms dari nomor yang tak ku kenal, dan ternyata itu adalah Syain. Facebooklah yang mempertemukan kami kembali. Dan akhirnya aku akrab dengan dia. Semakin aku akrab, semakin aku sulit melupakannya dan semakin aku takut. Takut kalau ini hanya bertepuk sebelah tangan, takut kalau suatu saat aku akan sangat kecewa. Ku kendalikan perasaanku dan ku katakan dengan lembut “anggap saja dia teman baikmu”. 3 bulan kemudian, aku menerima sms pertama di hari ulangtahunku. Nomor yang tak ku kenal, namun sepertinya aku mengetahui gaya smsnya. Tapi sms yang sedikit aneh dan penuh kejutan, bukan ucapan selamat ulang tahun malah disuruh membuka facebook membaca sesuatu, padahal udah malam dan sudah tidur 10 menit yang lalu, dari orang yang tak dikenal pula.
Dengan mata yang berat, aku pun menuju meja belajarku dan membuka laptopku menyambungkannya dengan internet dan membuka facebook. One message, ku buka dan ku baca. Dan orang yang tak ku kenal, dan tak tahu identitasnya telah menyapaku dan memberiku kejutan yang luar biasa, tapi sayang aku tak menyukai hal itu. Ia mengatakan dia suka sama aku, padahal aku tidak tahu siapa dia. Dengan segera aku menjawabnya “maaf aku gak kenal kamu, bagaimana mungkin aku bisa suka kepada orang yang tak kutahu sama sekali. Bahkan orang yang sudah lama ku kenal sekalipun, belum tentu cocok denganku, apalagi orang yang tak ada identitasnya seperti kamu, terimakasih”. Ku tutup facebookku, dan segera mematikan laptopku lalu kembali berbaring tidur. Banyak kejutan yang kudapat di hari ulangtahunku, tapi rasanya masih ada yang kurang.
Hari ulang tahun hampir selesai tapi yang kunantikan tak juga muncul, akhirnya aku tertidur. Tiba-tiba aku dibangunkan oleh sms dari nomor pertama yang mengsmsku di hari ultahku “maaf mengganggumu, mau mengklarifikasi apa yang terjadi hari ini, bolehkah aku menelponmu?”. Kaget dengan sms itu, lalu kujawab “ya”. Tak lama kemudian aku menerima telpon, dan ternyata itu Syain. Dan ternyata di facebook itu pun adalah dirinya. Dia sengaja membuat akun baru. Dia menembakku, dan akhirnya kami pun pacaran. Dia cowok yang sangat baik dan menyayangi aku. Walaupun berjauhan dia sangat perhatian dan dia serasa dekat. Dua tahun bersamanya membuat aku banyak berubah. Dari yang malas bangun pagi, akhirnya bisa bangun pagi, dari yang malas olahraga akhirnya menjadi kegiatan rutin tiap pagi, dari yang gak tahu futsal akhirnya cinta banget dan bahkan menjadi pemain futsal, dari yang kecanduan facebook akhirnya disadarkan untuk bisa menggunakan waktu sebaik mungkin artinya kurangi waktu untuk facebookan. Dua tahun bukanlah waktu yang singkat, terlalu banyak kenangan, dan akhirnya aku tiba pada masa yang sangat sulit dalam hidupku. Sebuah masalah menimpa hubungan kami.
Aku kaget ketika iseng membuka profil Syain pada suatu hari. Ada seorang cewek yang begitu akrab dengan dia. Mulanya tenang saja karena aku menganggap itu hal biasa, mungkin saja teman akrabnya. Dan dengan santainya aku pun juga mengapprove cewek itu. Tapi ternyata itu menjadi sebuah musibah besar dalam hidupku. Aku kembali dikagetkan oleh aksi mereka yang terpampang di layar facebook.
Cewek : “Syain…kamu dimana, kepalaku pusing banget”
Syain : “Aku masih di kampus, kamu minum obat dulu ya”
Cewek : “Nanti jenguk aku ya sayang, kangen…”
Syain : “Iya say…”
Siapa yang gak merasa panas membaca cewek lain dan pacar sendiri saling panggil sayang. Belum cukup sampai disitu rasa sakitku. Cewek itu menganggap aku sebagai pengganggu hubungannya dengan pacarku sendiri. Dia mengirimkan aku pesan singkat yang begitu menyakitkan.
“Hei cewek sadar dong, Syain itu pacar aku”
Aku masih berusaha tenang, ya mungkin saja ada yang mau ngerjain aku dan Syain, atau Syain mau menguji aku. Aku pun meminta Syain menjelaskan apa yang terjadi. Dari mulut Syain aku mendengar kalau tidak ada hubungan diantara mereka. “Cewek itu hanya cewek SMP yang masih labil yang butuh perhatian”, itu kata Syain. Ok aku menerima penjelasannya, tapi aku tidak mau cewek itu seakan menginjak-injak aku dengan berbagai pesannya dan statusnya yang menyindirku dan membuat aku cemburu.
“Makasih kamu tadi jenguk aku, makin sayang ma kamu” .>>> status untuk Syain
“Masih nggak sadar dia, mau sampai kapan aku ingatinnya” >>>status yang menyindirku
“Eh cewek gak tahu diri, udah dibilangin juga” >>> status yang menyindirku
“Sial gara-gara dia aku gak bisa hubungin sayangku, apaan si nih cewek” >>> status yang menyindirku
“Sayang…kenapa tadi gak datang, aku nunggu kamu loh” >>> status untuk Syain
“Eh cewek…kenapa kamu masih saja ganggu aku ama Syain, aku kan dah bilang kalau dia itu pacar aku, ngerti gak sih, bisa gak sih kamu gak ganggu Syain lagi??? Syain itu sayang ama aku, siapa suruh lo jauh disana, pacaran itu yang dekat-dekat aja, Mau taruhan Syain milih siapa?? Ya jelas akulah yang dekat disini. LOH…???? Jauh disana…okey..” >>> message untuk aku
Kalau mau direkap, itu terlalu banyak dan menyakitkan. Aku betul-betul gak tahu mau sabar gimana lagi. Aku terlalu sayang sama Syain, dan gak mungkin aku melepaskannya begitu saja kepada cewek yang labil itu. Syain mencoba menjelaskan kalau dia hanya butuh perhatian, dia cewek nakal yang ingin Syain rubah. Dia gak ada hubungan apa-apa, Syain hanya ingin membantu cewek itu untuk bisa berubah, dan jalannya adalah dia bisa dekat dengan cewek itu. Syain bilang kalau dia juga sangat sayang ama aku. Gak hanya selama dua tahun hubungan kami, tapi sejak pertama kali bertemu dia memang merasa ada sesuatu yang aneh dalam hatinya, tapi dia terlalu lambat menyadari kalau itu cinta. Dia juga mencari infoku kemana-mana tapi juga gak ketemu. Di hari yang sama ketika aku menemukan facebooknya, dia juga sementara mencari-cari namaku difacebook. Dan tepat sekali aku mengaddnya, dia pun segera mengapprove facebookku. Kata-kata ini yang pernah diungkapkan pada saat menembakku, dan ini yang menjadi kekuatan dan kesabaran untuk bisa terus bersama dia. Tapi semakin hari aku semakin tersiksa dengan cacian cewek itu di facebook.
Akhirnya pada suatu hari aku memutuskan untuk pisah dengan Syain. Ketika facebook menjadi jalan hubungan kita, maka facebook juga menjadi jalan penghambat hubungan kita. Aku menuliskan message kepadanya. “Syain kamu terlalu baik untuk dimiliki. Kamu rela mengorbankan cinta kita demi tujuanmu yang mulia…merubah cewek itu katamu. Aku mungkin egois, tapi aku rasa cewek itu lebih membutuhkanmu. Dan aku gak mau dicaci maki lagi sama cewek itu. Jodoh nggak bakalan lari kemana kok, kalau kamu memang yang awal dan akhir maka suatu saat kamu akan bersamaku kembali, tapi kalau tidak maka itu artinya kita gak sejodoh. Kerjakanlah misimu dengan baik dan tulus, tak perlu memikirkan perasaanku, kamu punya hak untuk hidupmu, dan ijinkan juga aku untuk bisa melupakanmu sejenak. Terimakasih untuk semuanya. Love you Syain….”
Itulah akhir kisah cintaku dengan Syain. Facebook memang dunia maya tapi ingatlah dunia maya bisa saja menembus dunia nyatamu. Jadi berhati-hatilah. Kalau kamu kuat, kamu akan menang. Tapi ketika kamu gagal itu bukanlah kekalahanmu, tapi sebuah proses untuk membuatmu lebih kuat meraih kemenangan. Maya dan nyata, itulah duniamu sekarang. Jalanilah…….. !!!!